Kita kuliah buat apa?

Salam laper…

Kemarin pas saya pulang subuh-subuh habis keluyuran dapat kenalan anak band yang sering bolos kuliah. Ketika uda mau subuh aku diantar dia pulang sampai ke kos. Di perjalanan kami banyak cerita-cerita tentang masalah anak kuliahan. Aku jadi tertarik mendengarkannya dan ingin ku angkat ke blog. Anaknya rambutnya gondrong, suka minum juga, tapi gak nyangka dia ngobrolin tentang hal-hal yang mampu membuat aku MIKIR dan dalam hati bilang, “hebat kau bang!”.

%ulangtahungebetandanpacar %Uda beri kado apa buat ultah si doi?

Jadi gini, selagi aku juga masih kuliah, aku cuman mau nanyak kepada teman-teman yang sedang atau mau kuliah, kalian kuliah apa yang mau dikejar? Ilmu atau nilai?

Kamu datang ke kuliah tentu punya tujuan-tujuan tertentu. Banyak anak-anak sekarang kuliah karena beberapa faktor, seperti disuruh orang tua, faktor ekonomi orang tua, iseng-iseng menghilangkan waktu luang, nyari pacar, sekedar nyari gelar, ingin mendapatkan ilmu, karena pacarnya kuliah di kampus A, rezekinya disitu karena di tempat lain tidak diterima, atau karena gak ada pilihan lain mungkin.

Kalo kuliah hanya untuk sekedar mendapatkan ilmu itu gampang, GAMPANG! Kamu tinggal datang, duduk, diam, tidak ada buat masalah, tidak ada absen, pasti minimal IP kamu di kampus diatas 3,00, dijamin. Lebih gampang lagi kalo ternyata kamu akrab dengan dosen, sering membantu dia, dijamin nilai B ada di tangan. Tapi untuk apa kamu kuliah kalo hanya cuman begitu. Sayang duit orang tua ratusan ribu sampai jutaan rupiah setiap semesternya cuman buat duduk diam tanpa mendapatkan apa-apa selain keterangan LULUS di ijazah kamu. Jadi apa yang harus kita kejar?

Ilmu? Ya, mungkin menjadi salah satu faktor kuat itu ilmu. Kamu yang sedang tidak kuliah sesuai dengan jurusan yang kamu inginkan saat ini, jangan sedih. Rezeki kamu itu ya yang sedang kamu dapatkan sekarang. Allah tidak akan pernah menahan-nahan rezeki hambaNya. Jangan menjadi keluar sifat dengki atau iri hati kepada orang yang nasib nya lebih bagus ketimbang kamu. Karena Allah tidak menyukainya dan akan membuat rezeki kamu jadi kering. Ngeri kan? Manatau kamu bisa menjadi orang sukses apabila kuliah di kampus B dibandingkan kamu kuliah di kampus pilihan kamu sekarang, who knows? :)

Didalam kuliah paling tidak ada 1 ilmu yang kamu kuasai di kampus kamu. Minimal satu ku bilang, cari passion mu dimana dan kembangkan. Seperti pohon yang mempunya satu batang, tapi memili banyak ranting, nah seperti itu. Ibaratnya batang itu satu ilmu kamu, tapi kamu bisa mengembangkannya layaknya ranting pohon. Apabila kamu menyukai ilmu dibidang komputer misalnya, kuasai lah itu sampai kamu mahir. Bejalarlah dengan teman-teman yang kamu anggap bisa diajak sharing bareng.

Setelah itu kalo aku uda menguasai sebuah bidang ilmu, tapi pekerjaan aku gajinya kecil gimana yat?

Hidup ini harus idealis dan mesti punya prinsip. “Oh aku hobi komputer, aku akan bekerja di bagian komputer bagaimana pun nantinya. Aku akan bekerja disana walaupun gaji ku tidak gede-gede amat, aku suka kerja di bagian ini. Aku tidak dapat bekerja di tempat lain walaupun gajinya lebih besar karena aku tidak suka kerja disana. Aku harus punya prinsip” Begitulah orang yang idealis dan punya prinsip.

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan”

Orang yang seperti itu adalah orang yang bisa mengubah dunia. Di Indonesia, orang seperti itu dipandang sebelah mata. Orang yang realistis malah yang dibilang hebat. Coba lihat orang tokoh-tokoh yang beridealis tinggi. Sebut saja Adolf Hilter, ya walaupun jiwa idealisnya yang tinggi malah menjerumus ke pemusnahan manusia, tapi kita lihat dari sisi idealisnya. Dia menganggap bahwa apa yang dia pikirkan itu benar, tidak ada yang dapat mengubah keteguhan hatinya. Dia akan terus mengejar apa yang dia cita-citakan itu tercapai sampai dia menjadi orang yang sangat berpengaruh di dunia. Masih banyak lagi tokoh-tokoh beridealis tinggi, seperti Martin Luther, Mother Teressa, Mahatma Gandhi, Socrates sampai Soekarno.

Beneath this mask there is more than just flesh. Beneath this mask there is an idea…and ideas are bulletproof… – V For Vandetta”

Kebanyakan orang Indonesia hidup karena mengikuti keadaan. Seperti dia sebenarnya mau kuliah di jurusan komputer. Seharusnya dia bekerja di bagian komputer juga suatu saat. Tapi karena ada lowongan pekerjaan dibidang perbankan, dia melamar kesana. Walaupun dia tidak begitu mengerti tentang perbankan, yaa yang penting uda dapat kerja dan berpenghasilan, jadi mau apa lagi? Itu namanya memaksa. Dia melakukan pekerjaan yang sebenarnya dari lubuk hati dia tidak nyaman disana walaupun gajinya besar.

Contoh lain seperti dia sebenarnya menyukai musik atau sepakbola, tapi orang tuanya tidak mengizinkan mereka kesana karena prospek kesana itu rendah. Anak ini menjadi takut dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Sehingga dia mengikuti arus seperti melamar ke PNS misalnya. Kalo orang yang memiliki prinsip dalam diri, “Aku suka menjadi pemain bola, aku akan mengejar ini sesuai dengan cita-cita ku. Walaupun suatu saat gajinya aku gak akan besar dan mungkin saja tidak memiliki klub yang bermain di liga utama.”

Lebih miris lagi apabila dia kuliah atau bekerja dibagian tertentu karena paksaan orang tua padahal dia tidak minat dan tidak mau kuliah disana. Tapi mau bilang apalagi, orang tua sudah memaksa. Kalo tidak kuliah atau bekerja disana dia bakal tidak dibiayai kuliah. Jadi mau bilang apa? Misal apabila bapaknya dokter, ibunya dokter, anaknya padahal bercita-cita ingin menjadi musisi, tapi karena paksaan orang tua, anaknya dipaksa menjauhi alat musik dan harus lebih dekat dengan alat bedah.

Menjadi mahasiswa harus sudah beda dengan anak sekolahan dalam pola pikirnya. Beda dengan kuliahan, kalo sekolahan kita termotivasi mengejar nilai tinggi. Banyak faktor yang mendorong kita untuk melakukan itu, seperti ingin mendapatkan kursi di universitas favorit dalam jalur undangan. Terus kalo uda sampai di universitas favorit, mau apa? Mau membanggain almamaternya? Emang sih kalo uda di universitas favorit gengsi jadi naik. Kalo orang bertanya, “Sekarang kamu kuliah dimana?” Dengan bangga pasti menjawab, “Aku kuliah di kampus A.” Nah, kamu uda dapat apa di universitas kamu itu? Kamu kuliah di universitas tersebut itu pakai uang rakyat loh, hasil pajak-pajak yang dibayarkan mereka. Pajak tersebut disubsidikan untuk biaya kamu kuliah makanya uang kuliah kamu bagi yang negeri itu lebih murah ketimbang swasta. Tapi disana tentu ada tujuannya kan, ya, agar kamu bisa mengsejahterakan kembali rakyat mu yang telah membiayai kamu kuliah.

Terkadang kita malas datang kuliah, sampai di kelas kerjanya cuman menghina dosen, tidur di kelas, datang terlambat. Kamu telah mengecewakan harapan rakyat yang telah membiayai kamu agar kamu kembali mensejahterakan mereka. Karena kemalesan kamu, kamu setelah sarjana kamu malah menambah beban negara dan meningkatkan jumlah pengangguran di Indonesia, gak ada skill yang bisa kamu andalkan. Karena apa? Salah satunya tadi ya tujuan kamu kuliah itu cuman mengejar ijazah doang.

%ulangtahungebetandanpacar %Uda beri kado apa buat ultah si doi?

Dosen di kelas tidak mungkin mengajarkan kamu materi sampai dalam-dalam, pasti hanya point-point pentingnya. Sisanya kamu cari sendiri diluar, dari buku, internet, ataupun teman kamu. Jadi mahasiwa itu harus saling membantu satu sama lain. Kawan tidak paham akan harus dibantu sampai dia mengerti. Jangan pelit ilmu sama teman. Betapa senangnya ketika kamu masuk kuliah bareng sama dia, terus wisudanya juga bareng dia. Memakai toga dengan waktu, detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun yang sama. Betapa indahnya kan. :)

Emang sekarang kuliahan itu uda seperti rumah sakit, uda dikomersilkan. Kamu mau ilmu? Bayar. Bayar dulu baru ilmu itu kamu dapat. Ijazah udah diperjualbelikan. Cuman di Indonesia yang ijazah diperjualbelikan. Jadi orang hanya datang membeli ijazah agar bisa memenuhi syarat-syarat memasuki instansi tertentu misalnya. Coba kamu lihat para pejabat kita, betapa banyak mereka yang duduk di anggota dewan tapi tetap korupsi, tidur dan tidak memikirkan rakyat. Itu salah satunya karena pendidikan mereka dulunya yang gak jelas.

Beda halnya kalo mereka berilmu tapi ilmunya mereka amalkan, apa gak jadi maju negara kita ini. Apa mau negara ini supaya maju harus seperti Jepang, diratakan dulu dengan bom atom baru bisa dibangun lagi dari awal. Emangnya ada yang mau negara kita di ratakan dulu baru dibangun ulang?

Okedeh mungkin sampai disini dulu tulisan saya, ini juga menjadi bahan motivasi bagi aku sendiri untuk harus mengejar cita-cita ku walaupun nantinya misalnya aku tidak memiliki gaji yang gede-gede amat yang penting aku senang melakukannya.

Intinya aku ingin menyemangati temen-temen untuk berpikir bersama. Apabila kamu suka dibidang tertentu, kejar dan kuasailah itu. Jangan gara-gara orang tua ngelarang, kamu menjadi takut. Intinya karena kamu takut dan belum berani mengambil keputusan penting dalam hidup ini makanya kamu masih dijajah oleh ketakutan mu sendiri. You Only Life Once. Jangan takut kalah dalam pertempuran selagi kita memiliki strategi didalamnya. Oke sekian dulu dan terima gaji…

11 Responses to Kita kuliah buat apa?

  1. Diffa Imajid says:

    ada yang kerja buat bayar kuliah, ada yang kuliah biar dapat kerja :D

  2. yisha says:

    cape dan pening bacaaaaaaaaa…………… :mrgreen:

  3. bundamuna says:

    banyaaaakkk bgt sih om nulisnya… pegel bacanya :P
    kalau dulu saya kuliah karena waktu itu saya merasa bahwa saya memang HARUS kuliah :D

    • buburasem says:

      haha ini pas lagi asyik2nya nulis jadi gak terasa. bagusan pendek2 aja ya?

      emang kuliah juga penting, tapi ilmu tidak full 100% dapat dari sana, bukan begitu? hehe :)

  4. redbike92 says:

    supaya dapat ilmu dan dapat ijasah :D
    kalau pengalaman kerja, memang tidak diajarkan di bangku kuliah :D

  5. Cumi MzToro says:

    aku kuliah buat cari temen, nambah relasi, membuka peluang buat ntar buka usaha. kalo ilmu nya sama aja gitu2 doang. Yang kepake akhir nya pengalaman dan jam terbang

  6. Ryan says:

    aku kuliah untuk apa ya? dapat gelar. :)
    kemarin itu kuliah cuma memang mendapatkan gelarnya karena sebagian besar sudah didapat pas beasiswa non gelar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


4 × = twenty

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>